Thursday, 14 July 2016

Sejarah Raden Haji Surya Kencana (Sejarah Cianjur)

Cianjur
Raden H Suryakacana
Eyang Surya Kencana yang bersemayam di Gunung Gede, merupakan anak dari Dalem Wiratanu Datar hasil pernikahan dari wanita bangsa Jin. Raden Haji Suryakencana yang nama lengkap beliau adalah Raden Suryakencana Winata Mangkubumi merupakan seorang putra dari Pangeran Aria Wiratanudatar ( pendiri kota Cianjur) dan memiliki istri yang merupakan putri dari bangsa jin.
Menurut babad Cianjur, Pangeran Surya Kencana dinikahkan oleh ayahnya dengan salah satu putri dari bangsa jin dan hingga kini bersemayam di Gunung Gede. 
Hal yang sama terjadi pula pada putri Jayasasana lainnya , Ny. R. Endang Sukaesih yang bersemayam di Gunung Ceremai dan R. Andika Wirusajagad yang menguasai Gunung Karawang.
Konon kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango merupakan tempat bersemayam Pangeran Suryakencana. Sejarah dan legendanya merupakan kepercayaan masyarakat di sekitar, yaitu tentang keberadaan Eyang Suryakencana dan Prabu Siliwangi di Gunung Gede.
Petilasan singgasana Pangeran Suryakencana berupa sebuah batu besar berbentuk pelana. Hingga kini, petilasan tersebut masih berada di tengah alun-alun. Beliau bersama rakyat jin menjadikan alun-alun sebagai lumbung padi yang disebut Leuit Salawe, Salawe Jajar, dan kebun kelapa salawe tangkal, salawe manggar.
'Konon Kawasan Gunung Gede merupakan tempat bersemayam Pangeran Suryakencana. Beliau bersama rakyat jin menjadikan alun2 sebagai lumbung padi yang disebut Leuit Salawe, Salawe Jajar, dan kebun kelapa salawe tangkal, salawe manggar. Petilasan singgasana Pangeran Suryakencana berupa sebuah batu besar berbentuk pelana. Hingga kini, petilasan tersebut masih berada di tengah alun-alun, dan disebut Batu Dongdang yang dijaga oleh Embah Layang Gading. Sumber air yang berada ditengah alun-alun, dahulu merupakan jamban untuk keperluan minum dan mandi.
Kawah Gunung Gede yang terdiri dari, Kawah Ratu, Kawah Lanang, dan Kawah Wadon, dijaga oleh Embah Kalijaga.
Embah Serah adalah penjaga Lawang Seketeng (pintu jaga) yang terdiri atas dua buah batu besar. Pintu jaga tersebut berada di Batu Kukus, sebelum lokasi air terjun panas yang menuju kearah puncak.
Eyang Jayakusumah adalah penjaga Gunung Sela yang berada disebelah utara puncak Gunung Gede.
Alun-Alun Suryakancana
Sedangkan Eyang Jayarahmatan dan Embah Kadok menjaga dua buah batu dihalaman parkir kendaraan wisatawan kawasan cibodas. Batu tersebut pernah dihancurkan, namun bor mesin tidak mampu menghancurkannya. Dalam kawasan Kebun Raya Cibodas, terdapat petilasan/ makam Eyang Haji Mintarasa.
Konon, Eyang Suryakencana menyimpan hartanya dalam sebuah gua lawa/walet yang berada di sekitar air terjun Cibeureum. Gua tersebut dijaga oleh Embah Dalem Cikundul. Tepat berada di tengah-tengah air terjun Cibeureum ini terdapat sebuah batu besar yang konon adalah perwujudan seorang pertapa sakti yang karena bertapa sangat lama dan tekun sehingga berubah menjadi batu. Pada hari kiamat nanti barulah ia akan kembali berubah menjadi manusia.
Lalu siapakah sebenarnya Raden Surya Kancana tersebut ?
Berdasarkan sejarahnya tahun 1529 kerajaan Talaga direbut oleh Cirebon dari Negara Pajajaran dalam rangka penyebaran agama Islam. Tetapi raja-raja Talaga, yaitu Prabu Siliwangi, Mundingsari, Mundingsari Leutik, Pucuk Umum, Sunan Parung Gangsa, Sunan Wanapri, dan Sunan Ciburang, masih menganut agama lama.
Sunan Ciburang memiliki putra yang bernama Aria Wangsa Goparana, yang merupakan leluhur Eyang Suryakancana dan merupakan orang pertama yang memeluk Islam, namun hal tersebut tidak direstui oleh orang tuanya akibatnya Aria Wangsa Goparana meninggalkan keraton Talaga dan menuju Sagalaherang yang terletak di Kabupaten Subang.
Di Sagalaherang, ia mendirikan pondok pesantren yang digunakannya untuk menyebarkan agama Islam. 
Pada akhir abad ke-17, beliau wafat di Kampung Nangkabeurit, Sagalaherang. Beliau meninggalkan beberapa orang putra dan putrinya, yaitu: 
  1. DJayasasana, 
  2. Candramanggala, 
  3. Santaan Kumban, 
  4. Yudanagar, 
  5. Nawing Candradirana, 
  6. Santaan Yudanagara, dan 
  7. Nyai Mas Murti.
Aria Wangsa Goparana, menurunkan para Bupati Cianjur yang bergelar Wira Tanu dan Wiratanu Datar serta para keturunannya.
Putra sulungnya, Djayasasana ini dikenal sebagai seorang muslim yang saleh. Setelah dewasa, Djayasasana meninggalkan Sagalaherang dengan di ikuti oleh orang terdekatnya. Mereka kemudian bermukim di Kampung Cijagang, Cikalongkulon, kabupaten Cianjur.
Djayasasana yang bergelar Aria Wira Tanu, menjadi Bupati Cianjur atau Bupati Cianjur Pertama (1677-1691) meninggal dunia antara tahun 1681 -1706 meninggalkan putra-puteri sebanyak 10 orang, yaitu:
  1. Dalem Anom (Aria Natamanggala), 
  2. Dalem Aria Martayuda (Dalem Sarampad), 
  3. Dalem Aria Tirta (Di Karawang), 
  4. Dalem Aria Wiramanggala (Dalem Tarikolot), 
  5. Dalem Aria Suradiwangsa (Dalem Panembong), 
  6. Nyai Mas Kaluntar, 
  7. Nyai Mas Karangan, 
  8. Nyai Mas Djenggot dan 
  9. Nyai Mas Bogem.
Lalu Siapa Eyang Suryakancana?
Djayasasana yang bergelar Aria Wira Tanu memiliki seorang istri lain dari bangsa jin Islam dan dikaruniai tiga orang putra-putri, yaitu :
Raden Eyang Suryakancana yang hingga sekarang dipercayai bersemayam di Gunung Gede atau hidup di alam jin, kini dijadikan nama Universitas Suryakancana Cianjur. 
Nyi Mas Endang Kancana alias Endang Sukaesih alias Nyai Mas Kara, yang merupakan Putri kedua , bersemayam di Gunung Ceremai dan, Andaka Warusajagad (tetapi ada juga yang menyebutkan bukan putra, tetapi putri bernama Nyai Mas Endang Radja Mantri bersemayam di Karawang).
Dalem Cikundul sebagai leluhurnya sebagian masyarakat Cianjur, yang tidak terlepas dari berdirinya pedaleman (kabupaten) Cianjur. Maka Makam Dalem Cikundul dijadikan tempat ziarah yang kemudian oleh Pemda Cianjur dikukuhkan sebagai obyek wisata ziarah, sehingga banyak dikunjungi penziarah dari pelbagai daerah.
( Di Ambil dari berbagai Sumber sejarah Cianjur )

1 komentar:

Terima kasih atas informasinya. Semoga sukses selalu.
http://grosirsponmandi.klikspo.com/